Saturday, November 10, 2012
Monday, October 29, 2012
Masih tentang mangga
Senin pagi, minggu terakhir oktober. Rutinitas pagi di rumah
telah beres. Saatnya berangkat ke kantor. Dalam perjalanan menuju kantor aku
melihat sekilas di tepi jalan, siBapak sol sepatu sedang menerima dua buah
mangga, dari tukang mangga yang berdagang keliling dengan menggunakan
becak. Aku melihat siBapak sol sepatu
menolak dengan mendorong halus buah mangga yang akan diserahkan oleh si tukang
mangga. Terlihat dia sungkan dan malu menerima pemberian itu. Tapi aku melihat
lagi si tukang mangga memaksa siBapak sol sepatu untuk menerimanya,.. keduanya
tersenyum, mencoba saling memahami dan menyelami perasaan masing-masing. Hingga
akhirnya siBapak sol sepatu menerima dengan raut penuh terimakasih. Aku tidak
bisa mendengar percakapan mereka tapi aku yakin jika siBapak sol sepatu
sangat-sangat berterima kasih, dan si tukang mangga bahagia luar biasa karena
bisa memberikan sesuatu yang berarti.
Kejadian singkat, mungkin aku hanya menyaksikannya dalam hitungan detik,
tapi air matakku mengambang. Aku terharu. Orang kecil begitu tulus, sederhana,
dan tidak mengada-ada. Mendadak aku teringat kejadian pada perayaan hari raya
kurban yang baru saja berlangsung kemarin. Ketika seorang Bapak berpredikat
haji, dan mengaku sebagai pemilik pondok pesantren, datang dengan wajah penuh
amarah. Dia datang dengan diikuti oleh beberapa pemuda dewasa tanggung. Si bapak (konon) haji ini tidak hanya datang dengan wajah penuh
amarah, tapi juga berteriak-teriak seperti orang kesurupan, menuntut jatah
daging kurban dan uang. Semua yang menyaksikan terkesiap. Dan hanya bisa
beristighfar. Ketika beberapa pengurus masjid mencoba menenangkan, beliau malah
semakin emosional. Menurutnya dia berhak atas jatah daging lebih banyak lagi,
karena jumlah yang telah diberikan
sebelumnya kepada santrinya, tidak cukup. Bahkan dia menuntut uang atas bantuan
yang telah diberikan santrinya dalam proses penyembelihan. Entah dia yang
kurang memahami situasi ataukah tidak ada koordinasi, tapi yang jelas upah yang
menjadi hak si santri telah dibayarkan kepada yang bersangkutan. Sedih rasanya
melihat seorang yang mestinya menjadi contoh teladan bertingkah laku seperti
itu. Apalagi melihat santri-santri muda yang ikut datang menemaninya. Seperti
itukah contoh nyatanya? Tindak-tanduk serakah,kasar, menggertak, seperti itukah
yang akan ditiru oleh para santrinya? Jika ya, akan sungguh menyedihkan.
Kemaren aku menyaksikan langsung keserakahan orang yang
dipandang terhormat, dan aku yakin cukup berada, tidak kekurangan secara materi.
Tapi hari ini aku menyaksikan langsung kedermawanan orang yang bukan dianggap
siapa-siapa, hidup pas-pasan bahkan mungkin sekali dua mengalami kekurangan.
Begitu banyak pelajaran hidup dihadapan kita. Jika kita jeli dan mau sedikit
berfikir menggunakan akal yang dikaruniakan kepada kita, insya allah kita akan
selalu menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Hari ini dalam perjalanan pendek
menuju kantor aku memetik hikmah, dan lirih aku berdo’a: Ya Allah, jadikanlah
aku orang yang selalu bersyukur, tidak serakah, dan bisa berarti bagi
orang_orang disekelilingku, amin yra.
Tuesday, October 23, 2012
Ada gamis dibalik pintu
Sering ditanya, kapan akan berhijab? Aku selalu menjawab,
soon my dear, coming soon.. Jadi sebagai latihan sering aku sesekali mengenakan
pakaian gamis dirumah. Tapi yang jadi
masalah adalah entah sudah berapa gamis rusak alias sobek tidak karuan gara-gara kesembronoanku.
Seperti yang terjadi sore ini, aku telihat cantik dengan
gamis berwarna ungu dan berbahan lembut.
(Hoooeekkk… muntah paku..!) Aku
duduk dengan anggun, menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Yang
tidak diinginkan itu maksudnya adalah tidak ingin gamis ini robek lagi
mengikuti jejak temannya yang sudah-sudah.
Jadi aku cukup hati-hati dalam bergerak….hingggaaaa,…
Dari kejauhan aku melihat salah seorang karyawanku datang
sambil mengendarai mobil. Kebetulan aku ingin menanyakan tentang tenggat waktu
pembayaran pajak kendaraan yang sedang dikendarainya itu. Aku bergegas membuka
pintu dan berteriak memanggil namanya. Tapi tampaknya karena suara mesin
menyaingi suaraku, dia jadi tidak mendengar panggilanku. Ketika aku ingin
keluar ternyata pintu terhalang oleh salah satu mobilku. Aku menutup pintu dan
bergegas untuk menuju pintu samping.
Harus cepat-cepat sebelum dia memacu kendaraannya dan pergi. Tepat pada saat
aku melangkah aku merasa ada sesuatu yang menarikku kebelakang. Aku memaksa
melangkah dan menarik badanku lebih keras lagi,..tapi tetap tidak bisa. Aku
berpaling dengan kesal
dannn,…tadaaaaa…..separuh dari bajuku telah terjepit oleh daun pintu. Yuuupp,..
aku mengunci pintu dengan separuh bajuku tertinggal didalamya,.. anak-anakku
terbahak-bahak…. How silly you are, mommy… kata mereka sambil tertawa hingga
terguling-guling,… yesss,.. I still a “slordeh” mom> inge the slordeh mom :)
Sunday, October 21, 2012
Mangga HarumManisBahagia
Hari telah siang. Menjelang sore bahkan. Di salah satu pojok
gudang tempat penyimpanan barang
perusahaan, aku yang sama sekali belum makan siang, meminta semangkok
mie instan rebus kepada penjaga gudang. Selang beberapa waktu istri penjaga
gudang pun datang, mengantarkan sepiring mie instan rebus dan sebotol air
mineral. Aku berterima kasih dan mulai
menyantap dengan lahap. Beberapa saat kemudian si istri penjaga gudang terlihat
berjalan kearahku dengan membawa sebuah kantong plastik hitam.
Ia berujar, “Mangga ini untuk Ibu, mangga harummanis baru
saja datang kemarin dari Indramayu.”
“Wah, pasti enak nih, berapa harganya?” tanyaku
“Tidak ada harga-harga an,bu. Saya kepingin ngasih Ibu”
ujarnya
“Lho, harganya kan mahal ini,…”ujarku
“Nggak apa-apa bu..saya memang kepengen ngasih Ibu” katanya
“Beneran ini?,..wahh..Terima kasih yaaa, terima kasih
banyak…”ujarku lagi sambil menepuk halus pundak nya.
“Oh, saya yang terima kasih bu, terima kasih banyak sekali
sama ibu. Rejeki saya datang dari Allah melalui Ibu,..” katanya.
Dia mengucapkan kalimat itu dengan lirih dan terdengar
sangat tulus, sangat indah ditelingaku,.. Tiba-tiba mataku terasa panas dan
tenggorokan terasa tercekik. Aku tidak sanggup menghabiskan mie yang hanya
tersisa beberapa sendok lagi. Hatiku dilingkupi keharuan. Sebuah kalimat
sederhana dari perempuan sederhana itu tiba-tiba menyadarkanku, mengembalikan
semangatku yang menciut bersama dengan datangnya masalah-masalah yang
menghujaniku. Mendadak semuanya menjadi sederhana,…dan
begitu sederhana-nya untuk merasa
bahagia…
Friday, October 19, 2012
Payung dan kue pancong
Hujan deras diluar. Aku sedang didapur menyiapkan santapan
siang. Memandang keluar jendela terlihat
seorang pedagang makanan dengan gerobak dorongnya. Aku membaca stiker tulisan alakadar di kaca gerobak
dorongnya “Kue Pancong”. Dia berhenti
untuk berteduh dibawah salah satu dahan pohon mangga kami. Kepalanya hanya
ditutupi sehelai saputangan kecil yang nyaris tidak ada artinya seiring dengan
semakin derasnya hujan.Aku merasa sesak, pedagang kue pancong ,dibawah hujan
deras, dan tanpa payung.
Ditengah cuaca
cerah saja, dijaman sekarang ini, entah siapa dan berapa yang masih sudi membeli ataupun makan kue
pancong. Ditengah gempuran Bread talk, J-co Doughnout,Roti Boy, masih adakah
generasi yang kenal dengan kue pancong. Haduhh, ..
Segera aku memanggil suamiku dan memintanya untuk memberikan
salah satu payung kami kepadanya. Suamiku
bahkan berinisiatif untuk memborong kue pancongnya. Aku tersenyum, dan aku
hadiahkan sebuah ciuman di pipinya… Apa?! Hahahaha,…BUKAN!!!.. bukan ciuman ke
pipi si tukang kue pancong, tapi ke pipi suamiku. Jiiieeeee,… hebat bener si tukang kue pacong
kalo sampe dibeli kuenya, dikasi payung
Cuma-Cuma, trus dapet sun sayang di pipinya,.. :P
Wednesday, October 17, 2012
Friday, August 24, 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)