Showing posts with label humaniora. Show all posts
Showing posts with label humaniora. Show all posts

Wednesday, July 3, 2013

kasih ayah

setiap hari minggu aku selalu menjadi orang yang bangun paling pagi di rumah. daripada bengong menunggu para penghuni lainnya bangun aku memilih untuk berjalan pagi. aku sendiri juga bingung sebetulnya yang menjadi poin utamanya jalan pagi atau jajan setelah jalan pagi, hehe. yup, biasanya memang aku sekalian wisata sarapan. selain jajan ada hal lain yang juga menjadi kesukaanku. biasanya aku menikmati pemandangan pagi sembari memperhatikan orang-orang yang berada disekelilingku. kadang aku memperhatikan pepohonan. kadang bangunan. kadang anak-anak kecil yang berpapasan dengankku, orang tua anak-anak itu, para lanjut usia, tukang ojek, tukang dagang, ada kucing, ada anjing, pokoknya apa saja, siapa saja bisa menjadi objek perhatianku. hinggalah tiba pada hari minggu kemarin. entah kenapa tumben-tumbenan suamiku memutuskan untuk ikut jalan pagi denganku. usut punya usut ternyata dia ingin ikut sarapan denganku. huuuu... kamipun berjalan beriringan. dilapangan terlihat anak-anak sedang bermain bola dengan didampingi oleh seorang dewasa yang aku duga adalah seorang pelatih pura-pura alias pelatih wanna be. ya keliatan saya dari gayanya dia bukan pelatih sungguhan, tapi aku sungguh respek dengan kepeduliannya. di tempat lain aku melihat beberapa anak-anak yang sedang merubungi seekor anak anjing yang sedang memperagakan gerakan-gerakan sesuai dengan perintah majikannya. dengan beberapa perintah si anak anjing memperagakan gerakan duduk, berdiri, bersalaman, berbaring, dll secara berulang-ulang. aku melihat anak-anak begitu terkagum-kagum. lagi-lagi aku juga sungguh respek dengan ketulusannya memberikan hiburan sederhana sehingga anak-anak berbinar bahagia. lalu disisi lain aku melihat seorang ayah yang sedang menuntun anaknya lelaki remajanya. dengan sabar dia mengajari anaknya berjalan selangkah demi selangkah. kadang disertai dengan hitungan. sesekali diiringi dengan lagu-lagu pemberi semangat. pada saat papasan pertama aku masih tidak terlalu memperdulikannya. ketika kemudian aku kembali berpapasan dengan mereka aku mulai mencuri-curi pandang. aku melihat bagaimana si ayah mencoba untuk membuat anaknya tersenyum. dan kelihatannya dia cukup berhasil. sesekali dia menunjuk kearah anak-anak yang sedang bermain bola dan mengucapkan kata-kata yang membuat anaknya tersenyum. hatiku mulai bergetar. ketika kemudian berpapasan untuk yang kesekian kalinya, dan dia tidak sedikitpun terlihat lelah. semangatnya tidak sedikitpun terlihat berkurang. aku menarik tangan suamiku sambil berbisik, "lihatlah,..cinta seorang ayah, kasih sayang seorang ayah.., luar biasa!" suamiku juga ikut tercekat. "ya,.."sahutnya. kemudian aku berkata, "selama ini orang begitu terkonsentrasi dengan kasih seorang ibu, cinta seorang ibu, hingga kita luput melihat bahwa ayah juga memiliki cinta dan kasih sayang yang sama, yang tidak kalah dengan cinta seorang ibu.." Aku mulai berlinang, suamiku juga terlihat berlinang. Aku berbisik, "tiba-tiba aku ingat ayahku.." dan kudengar suamiku juga berbisik,"aku juga teringat akan ayahku" dan kami berjalan dalam hening, tenggelam dengan pikiran masing-masing.

Monday, July 1, 2013

berkata-kata dan tidak berkata-kata

Hei,..tidak berkata-kata ternyata benar-benar membuat kita pada akhirnya susah untuk berkata-kata. Aku benar-benar kehabisan kata-kata dan tidak tau harus memulai cerita darimana. Tapi sumpah aku hari ini sungguh-sungguh ingin berbagi kata-kata. So, better we start ya, ceritanya, ceritanya nih ya, sudah dua bulan terakhir ini aku mempunyai seorang karyawan yang tunawicara. Ya benar, dia bisu, tidak bisa bicara tepatnya. Awalnya agak ragu menerimanya karena ketidak sempurnaannya, tapi setelah dipikir-pikir kami putuskan untuk mencobanya. Tidak mudah bagi mereka untuk bersaing dengan orang-orang normal dalam perebutan lapangan pekerjaan, jadi sedikit kesempatan yang diberikan akan menjadi sangat berharga bagi mereka. Jadilah kami mulai beradaptasi. Sepanjang pengetahuan saya dia bekerja dengan rajin. Dari sisi kehadiran juga dia tidak banyak membolos. Terus terang aku cukup nyaman dalam mempekerjakannya. Hingga hari ini terjadilah sesuatu. Awalnya aku mampir untuk memberikan amplop gajinya, dia tersenyum dan mengangguk berkali-kali. Aku mengerti, dia mencoba untuk mengucapkan terimakasih. Tentu aku juga hanya bisa mengucapkan terima kasih dan membalas senyumnya. Tanpa berlama-lama aku langsung berpamitan untuk pergi menemui teman-temannya yang berada ditempat lain, tentunya untuk melakukan hal yang sama. Tapi sesampainya disana, aku begitu terkejut ketika teman-temannya bercerita bahwa si AA-UU, tadi terluka karena kecelakaan kerja.Sesuatu menimpa kepalanya hingga mengalami luka sobek, tapi sudah dibawa ke klinik untuk mendapatkan beberapa jahitan dikepalanya. Tentu saja aku terkejut bukan kepalang. Padahal barusan aku bertemu dengannya dan dia tidak menampakkan raut wajah sedih ataupun sakit. Eh, tapi tunggu dulu, yang benar saja, masa aku mengharapkan dia mencerita kejadian yang barusan menimpanya sedangkan dia mempunyai keterbatasan bicara. Aku langsung bergegas dan kembali lagi ke bengkel tempatnya bekerja. Untung dia masih ada disana. Dengan segala daya upaya aku berusaha untuk berkomunikasi dengannya. Aku tanyakan tentang kejadian yang tadi menimpanya. Dan dia mulai memperagakan beberapa gerakan dengan bahasa tubuhnya. Berkali-kali aku mencoba memastikan apakah benar dia tidak apa-apa. Dan dia mengangguk berkali-kali, memastikan dia baik-baik saja. Aku mencoba menyampaikan sebaiknya berhati-hati dalam bekerja. Dan sepertinya dia mengerti.Bahkan untuk menenangkanku dia memperagakan gerakan binaraga, sambil menepuk dadanya, mengatakan bahwa dia kuat. Aku tersenyum sambil menggeleng-geleng, tidak, kataku. Tetap harus berhati-hati, jaga keselamatan, ujarku sambil menepuk pundaknya. Lalu aku pun berpamitan. Sepanjang perjalanan aku kembali memikirkannya. Aku tahu dia berusaha keras untuk meyakinkanku karena aku tahu dia takut jika aku memutuskan hubungan kerja. Dengan segala keterbatasannya dia tahu bahwa posisinya sangat rentan. Aku menghela nafas. Terus terang ada kebimbangan didalam hatiku dengan kondisinya ini. Pasti akan ada kesulitan dengan keterbatasannya ini. Tapi aku tahu pasti ada jalan keluarnya. Ada pe-er baru untuk menciptakan keselamatan kerja dengan kondisi yang agak istimewa ini.

Friday, October 19, 2012

Payung dan kue pancong



 Hujan deras diluar. Aku sedang didapur menyiapkan santapan siang. Memandang keluar jendela  terlihat seorang pedagang makanan dengan gerobak dorongnya. Aku membaca stiker  tulisan alakadar di kaca gerobak dorongnya  “Kue Pancong”. Dia berhenti untuk berteduh dibawah salah satu dahan pohon mangga kami. Kepalanya hanya ditutupi sehelai saputangan kecil yang nyaris tidak ada artinya seiring dengan semakin derasnya hujan.Aku merasa sesak, pedagang kue pancong ,dibawah hujan deras, dan  tanpa payung.

Ditengah cuaca cerah saja, dijaman sekarang ini, entah siapa dan berapa  yang masih sudi membeli ataupun makan kue pancong. Ditengah gempuran Bread talk, J-co Doughnout,Roti Boy, masih adakah generasi yang kenal dengan kue pancong. Haduhh, ..

Segera aku memanggil suamiku dan memintanya untuk memberikan salah satu payung  kami kepadanya. Suamiku bahkan berinisiatif untuk memborong kue pancongnya. Aku tersenyum, dan aku hadiahkan sebuah ciuman di pipinya… Apa?! Hahahaha,…BUKAN!!!.. bukan ciuman ke pipi si tukang kue pancong, tapi ke pipi suamiku.  Jiiieeeee,… hebat bener si tukang kue pacong kalo sampe dibeli kuenya, dikasi payung  Cuma-Cuma, trus dapet sun sayang di pipinya,.. :P

Monday, June 9, 2008

Mereka mencuri perhatianku

Pada rute yang sama dan pada jam yang sama maka aku pun bisa merekam kejadian yang sama ditempat yang sama. Bingung? Maksudnya begini, pada rute graha raya, pada jam dua, ada orang-orang tertentu yang tempatnya selalu tetap disitu, yang menjadi perhatianku.

Siapa saja mereka?

1. Bapak tua penjual lampu minyak.
Dijaman serba moderen seperti sekarang ini masih tersisa orang-orang yang mencoba berjualan benda yang nyaris jarang digunakan lagi. Memang listrik sudah tersambung dimana-mana. Tetapi pemadaman bergilir mungkin masih menjadikan berkah tersendiri bagi si bapak penjual lampu minyak. Mungkin bagi beberapa kalangang yang tergolong mampu membeli genset adalah alternatif yang paling sempurna. Namun bagi kalangan bawah lampu minyak adalah alternatif yang paling tepat. Dengan adanya konversi minyak tanah ke gas membuat usahan si bapak benar-benar berada diujung tanduk, sebab dengan sulitnya mendapatkan minyak tanah orang pun berfikir dua kali untuk menggunakan lampu minyak. Akhirnya lilin dianggap lebih praktis dibandingkan lampu minyak. Kasihan si bapak itu. Sampai kapan dia akan sanggup bertahan untuk berdagang lampu minyak…

2. Anak lelaki berambut jagung
Setahun yang lalu, di suatu hari hujan turun dengan dengan derasnya. Dibawah siraman hujan dan mendung pekat yang menutupi langit itulah tiba-tiba pandanganku terbentur pada seorang anak yang sedang menangis dipinggir jalan. Dengan memegang sebuah karung plastik putih dia duduk ditrotoar tanpa sedikit pun berusaha untuk menghindar dari derasnya hujan. Anak lelaki itu berumur sekitar 9 tahun, seumuran dengan anakku, berbadan kurus dengan rambut berwarna pirang karena terbakar matahari. Aku tidak tahu dia menangis karena apa. Tapi aku begitu tersentuh olehnya. Sepanjang perjalanan bayangan anak itu tidak bisa hilang dari ingatanku. Dalam hati aku perang batin. Antara ingin kembali ketempatnya atau tetap meneruskan perjalanan. Hati kecilku terus mendesak dan bertanya-tanya. Tertabrakkah dia? Sakitkah dia atau kelaparankah dia? Tapi hatiku yang lain mengatakan untuk tidak berbuat konyol. Ini Jakarta. Mungkin saja ada yang menyuruhnya untuk berbuat seperti itu seperti sindikat anak jalanan dilampu2 merah itu. Atau mungkin saja aku malah diperas dengan tuduhan telah menabrak dan diharuskan membayar ganti rugi untuk sesuatu yang tidak aku lakukan. Perang batin itu terus terjadi didalam hatiku hingga aku sampai kerumah. Tapi aku mencoba untuk melupakannya. Aku berharap agar keesokan hari bisa melihat anak itu dalam keadaan yang berbeda. Harapanku tercapai. Keesokan harinya aku melihat lagi anak itu ditempat yang sama. Tapi kali ini sedang bermain-main dan tertawa gembira bersama beberapa temannya ( dan masih tetap dengan membawa karung plastik, aku berasumsi dia dari keluarga pemulung ) Aku merasa sangat lega . Setidaknya bukan sesuatu yang teramat buruk terjadi padanya kala itu. Dan ketika keesokannya lagi, dan keesokannya lagi,..aku masih tetap dapat melihat dia aku menjadi semakin lega. Hingga tanpa aku sadari anak lelaki berambut jagung dengan sebuah karung menjadi sahabat imajinerku yang selalu aku rindukan. Suatu saat jika aku sudah memiliki keberanian aku akan menemuinya dan mengajaknya untuk benar-benar menjadi temanku.

3. Bapak bongkok penjual gado-gado
Satu lagi yang juga tidak pernah luput dari perhatianku adalah seorang bapak setengah tua penjual gado-gado. Banyak penjual gado-gado yang pernah aku lihat dan temui. Tapi bapak ini berbeda. Dia memiliki keterbatasan dengan bentuk tubuhnya yang tidak sempurna. Tapi itu tidak mengurungka niatnya untuk berbuat layaknya manusia normal. Dengan tubuh bongkoknya itu dia setiap hari mendorong gerobak gado-gadonya. Aku sangat kagum dengan semangat hidupnya. Keterbatasan fisik tidak menghalanginya untuk menjadi manusia seutuhnya. Dia mengalahkan orang-orang muda yang bertubuh sempurna yang hanya menjadi polisi cepek di setiap putaran balik atau menyorongkan baskom kosong disetiap jalan-jalan yang rusak dan berlobang dengan dalih telah berjasa menambal jalan.

Ketiga orang ini benar-benar telah mencuri perhatianku. Setiap hari aku selalu mencari-cari mereka dalam pemandanganku. Jika ada salah satu yang luput dari perhatianku karena tidak terlihat maka dalam hati aku pun bertanya-tanya kemana gerangan mereka. Hanya bisa berharap bahwa hidup yang keras ini tidak akan mengalahkan semangat mereka untuk tetap terus berjuang. Allah selalu menjaga dan melindungi kalian sahabat-sahabatku….

Thursday, June 5, 2008

Let me help you, sir...

Ini masih tentang kegiatan sehari-hari. Karena jam pulang anakku yang berbeda, maka setiap hari senin-rabu-kamis aku bersama di adek harus menunggu si kakak sekitar satu jam . Kalau hari selasa dan jumat biasanya aku menunggu ditempat si adek les kumon. Selain hari yang aku sebutkan diatas itu, biasanya aku menunggu bisa dimana saja. Kadang di warung baso, kadang di tempat ketoprak atau kadang malah di pelataran parkir sekolah jika waktunya sudah mepet( ini biasanya kalau aku telat menjemput si adek ) Tapi aku dan si adek punya satu tempat rahasia yang menjadi favorit kami berdua. Sebuah pelataran parkir yang cukup teduh di kawasan perkantoran pemerintahan sipil. Terdiri atas mushalla, kantor koramil, kantor urusan agama, kantor camat, puskesmas dan terakhir baru saja berdiri kantor polsek. Pelataran parkir di kawasan inilah yang menjadi tempat mangkal idola kami. Biasanya kalau lagi rajin aku shalat di mushalla itu (kalau lagi malas shalatnya di rumah saja), ada kantin kecil tempat aku membeli makan siang jika tidak sempat membawa dari rumah, juga ada warung kecil yang menyediakan minuman dingin jika aku kehausan. Kadang kalau sedang capek sekali biasanya aku tidur dimobil barang 15 menit atau 30 menit( tinggal dikalungin handuk kecil putih merek "good morning" dileher, maka tampilanku persis kayak sopir angkot jurusan tanah abang - kampung melayu)

Hari ini ada kejadian yang agak tidak biasa. Sesampainya dibawah pohon rimbun langgananku, aku mulai membuka-buka koran hari ini karena tadi tidak sempat membaca dirumah. Sesekali aku mengalihkan pandangan ke sekeliling. Saat itulah tiba-tiba pandanganku terhenti pada seorang bapak tua yang buta yang sedang meraba-raba dengan tongkatnya. Dia kelihatan bersih dan rapi. Sangat berbeda dengan penampilan orang tuna netra yang biasa aku lihat. Dengan kemeja hitam, celana panjang krem, sebuah tas diselempangkan di bahu dan sebuah kacamata hitam dengan logo G, mungkin maksudnya Guci (dengan 1 huruf C saja) atau Gues (dengan 1 huruf S saja) Tapi secara umum dia kelihatan resik. Karena merasa dia agak spesial, maka aku berniat untuk mengabadikannya di kamera. Berdasarkan perkiraanku, jika aku memotretnya dari mobil ketika ia melewatiku pasti dia tidak akan menyadarinya karena memang dia tidak bisa melihat. Maka aku pun mengatur posisi duduk yang nyaman sambil menunggu ia melintas. Tapi ketika aku melihat dia dikejauhan hanya berputar-putar kebingungan aku menjadi iba. Tidak ada seorangpun disekitar situ, kecuali aku. Keadaan sekeliling sangat sunyi. Aku memutuskan untuk turun dari mobil dan menghampirinya. "Mau kemana pak? Mau kearah luar ya..?" tanyaku. "Iya,..."jawabnya lirih. "Sini pak, kearah kanan,.." Tiba-tiba aku sadar dia akan sangat susah membedakan kiri dan kanan. Aku pun memegang bahunya dan memutar badannya kearah kanan. "Tapi ini kan jalan yang tadi lagi..."katanya ragu. "Iya,..tapi ini menuju keluar. Jalan dipinggir aspal saja karena trotoarnya banyak yang bolong dan ada pohon ditengahnya" kataku. Ia lagi-lagi mendesah, seolah menyesali keterbatasannya. "Kalau kantor polsek dimana, jauh nggak?"katanya lagi. "Oh, itu yang diujung,..."lagi-lagi aku lupa kalau dia tidak bisa melihat arah yang aku tunjuk. "Gini, Bapak tinggal jalan luruuuus saja, kira-kira 100 langkah nanti kantor polseknya berada disebelah kiri bapak" kataku sambil menuntunnya ke pinggiran aspal. Pada saat yang bersamaan lewatlah seorang pria berumur sekitar 40-an dengan mengenakan seragam dinas petugas sipil. Dari kejauhan dia sudah tersenyum-senyum. Awalnya aku membalas dengan senyuman juga. Tapi tiba-tiba dia berkata, "Kok cuma dituntun,..di peluk dong,...hahaha..." dia tertawa sendiri. Aku kaget. Asli kaget. Maksudnya apa? Bukankah seharusnya dia sebagai seorang pria merasa punya kewajiban untuk menolong. Tapi dia malah mengolok-olokku dan pria buta setengah baya itu. Aku sampai tidak bisa ngomong apa-apa. "Hati-hati ya,pak..." kataku sambil melepas si bapak buta itu setelah menuntunnya beberapa langkah. Aku berjalan kembali ke mobil sambil tak henti-hentinya berfikir tentang pertemuanku dengan orang ajaib yang begitu mudahnya melecehkan orang lain dan benar-benar tidak punya kepekaan nurani.

Ku temui kameraku yang tergeletak karena tidak jadi digunakan."Oh,..sorry buddy, kita kehilangan moment berharga itu..."

Sebagai pengobat kecewa hanya gambar ini yang bisa aku dapatkan,....Gambar si bapak istimewa itu,... dari kejauhan.....


Thursday, April 17, 2008

Ketiban bulan,..kejatuhan bintang,..

Ini sebuah kejadian nyata yang terjadi minggu lalu. Semua tokoh adalah nyata dan benar adanya.

Sudah hampir tiga minggu aku tidak mampir ke percetakan. Terakhir kesana pada awal bulan dalam rangka menjalankan kewajiban membayar gaji karyawan. Itu tanggal satu di bulan april. Tanggal dua dan seterusnya benar-benar aku tidak pernah menampakkan batang hidung. Sampai-sampai ada salah seorang karyawanku yang memberanikan diri untuk bertanya pada suamiku apakah aku sedang sakit. Dan dengan konyolnya suamiku mengiyakan. Katanya aku memang sedang sakit, lumayan parah, nama penyakitnya : sakit malas!
Ternyata, meskipun tampang pas-pasan, karena tidak mau dibilang jelek, aku masih tetap dirindukan oleh para karyawanku. Duh,..aku jadi agak terharu.

Dua minggu tidak hadir ternyata membuat aku ketinggalan berita yang paling panas. Dan suamiku yang menggelindingkan bola panas gosip itu kerumah. "Si Yono bener-bener ketiban bulan, kejatuhan bintang dan diserempet matahari...!"katanya dengan menggebu-gebu.
Lho,..lho,..apa-apaan ini? Maksudnya si yono sekarang "mecedel" dan masuk ICU karena melepuh diserempet matahari?...kataku penasaran. Bukan...bukan itu,...kata suamiku

Ceritanya begini,:
Salah seorang karyawanku yang bernama Yayat, punya sepupu yang akan segera menikah, sebut saja namanya Bunga.(dih,..kok kayak berita dikoran aja, pakai nama samaran segala..) Semua perlengkapan untuk acara pernikahan telah dipersiapkan. Mulai dari undangan yang telah disebar, menyewa pelaminan dan tenda, pemesanan hidangan untuk para undangan, hingga menghubungi penghulu yang akan melakukan prosesi akad nikah. Semua telah terencana dengan matang dan sempurna, hingga pada H-3 terjadilah kejadian yang tidak diduga. Sang calon pengantin pria tiba-tiba menghilang. Konon menurut ceritanya dia menggelapkan 13 unit sepeda motor milik perusahaan tempatnya bekerja. Bukan hanya pihak pengantin perempuan yang mencari-carinya tetapi juga pihak kepolisian. Bayangkan betapa paniknya keluarga Bunga.

Yayat, sebagai kakak sepupu mencoba mencarikan jalan keluar dengan meminta bantuan pada salah seorang teman ditempatnya bekerja, yang nota bene adalah karyawanku juga. Tersebutlah Yono yang menjadi tempat curhat Yayat. Mendengar kisah Yayat, Yono pun jatuh iba. Dengan berlagak seperti pahlawan kesiangan, Yono bersedia untuk menggantikan si pengantin laki-laki bodong itu, untuk duduk dipelaminan. Tapi dengan syarat hanya duduk dipelaminan saja. Tidak untuk akad nikah. Akhirnya H-2 Yono pun dipertemukan dengan orang tua Bunga dan Bunga. Dalam pertemuan itu mereka berharap semoga ada ada perjodohan yang sesungguhnya pada akhirnya. Maksudnya,...mungkin cinta akan datang belakangan dan mereka akan menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya.

Wah,...wah,...wah...ini kok kayak cerita di pilem-pilem ya?..Pada saat suamiku menceritakan kejadian ini aku benar-benar tidak sabar dengan kelanjutan kisah ini. Tapi itu berarti aku harus menunggu keesokan harinya. Karena jam demi jam yang berlalu merupakan detik-detik bersejarah dalam kehidupan Yono. Dalam tempo 36 jam tanpa melalui proses pacaran tiba-tiba sudah tersedia pelaminan dan calon pengantin berusia 17 tahun untuknya. Cantik pulak. Kalau boleh jujur Yono dan Bunga seperti Beauty and The Beast secara tampang Yono yang sulit untuk di kategorikan sebagai lelaki tampan. Ehem,..

Keesokan harinya ketika H-1 yang berarti 24 jam sebelum acara, Yono datang kerumah kami. Dia meminta nasehat dan wejangan dari kami berdua yang telah dianggapnya sebagai orang tuanya. Pembicaraan yang pada awalnya kami tanggapi dengan santai berubah menjadi sangat serius karena kami tidak tega melihat tampang Yono yang tegang sekaligus bingung. Dan mulailah aku dan suamiku menerangkan tentang konsep perkawinan, bahwa pernikahan itu bukan hal yang sederhana seperti yang dikiranya, bahwa begitu banyak kemungkinan bisa terjadi. Dan yang paling kami tekankan padanya adalah : apa pun keputusan yang telah dipilih, pilihan itu tidak akan pernah disesali seumur hidupnya. Jadilah lelaki sejati, pesan suamiku.

Yono pun manggut-manggut. Entah maksudnya benar-benar mengerti, agak mengerti, atau kurang mengerti, hanya dialah yang tahu. Tidak lama kemudian dia pun berpamitan. Aku dan suamiku hanya saling berpandangan,...lalu berpegangan tangan...heh,maksudnya apa, coba?!
..Hehehe...maksudnya ya, kami mendoakan semoga Yono berhasil. Gitu lho..!

Beberapa jam kemudian kami mendapat berita bahwa Yono mengundurkan diri untuk menjadi mempelai pria karena pihak keluarga Bunga terus berusaha mendesak Yono untuk melakukan akad nikah. Karena tidak adanya kesepakatan maka akhirnya dibatalkan. Kepanikan yang melanda keluarga Bunga semakin menjadi-jadi karena tenggat waktu yang semakin sempit. Bisik-bisik sudah mulai disana-sini. Bahkan para pemasang tenda ikut ambil bagian dalam rumpian ini. Hingga akhirnya salah seorang dari karyawan penyewaan tenda itu mendengar dan menawarkan dirinya sebagai calon pengantin pria. Setelah pertemuan singkat antara calon penganti laki-laki dengan calon pengantin perempuan, termasuk mendatangkan orang tua si calon pengantin laki-laki dadakan, maka acara perkawinan akan dilangsungkan dalam waktu 12 jam kedepan. Masalah terpecahkan. Everybody happy. Begitu sederhananya...ck...ck...ck...

Tinggal aku yang terlongo-longo. Kok ya kawin atau nikah ternyata semudah itu. Apa tidak lebih baik jika mengirimkan kepada para undangan sebuah surat pemberitahuan pembatalan pernikahan daripada melakukan aksi asal comot begitu. Ini yang kawin orang apa kucing, sih? Aku benar-benar tidak habis pikir.

Lha, terus si Yono gimana nasibnya? Menurutku definisi yang tepat untuknya saat ini adalah : (...Setelah melalui proses ketiban bulan, kejatuhan bintang, dan diserempet matahari....) "Yono lebih baik mengungsi ke Mars..."