Sunday, February 24, 2008

Migren

Pagi ini bangun kesiangan. Jam 7 lewat 5. Subuh? Ya..bablas rek..(Maafkan hamba Mu yang hina dina ini ya Allah,..) Ini semua gara-gara anak-anak yang menggedor pintu kamar jam 2 pagi. Aku yang setengah melek setengah merem, sambil berjalan kekamar mereka, lupa membawa hp yang alarmnya sudah disetel untuk jam 5 pagi. So,...jam 7 lewat 10, terjadilah kehebohan luar biasa dipagi yang biasanya damai itu.
Anak-anak pun dengan ajaibnya begitu dengan kata "jam 7 lewat 10...!" langsung lompat dari tempat tidurnya. Tanpa babibu langsung mandi. Padahal biasanya kalau dibangunkan jam 6 pada lemes-lemes gitu. Kok bisa ya? Oh,..ternyata mereka takut juga kalau datang terlambat.
Karena kesiangan, "tebengan saling menguntungkan" ( karena dia si temanku kebagian jatah mengantar dan aku kebagian jatah menjemput ) juga sudah berangkat duluan. Which mean, aku pagi ini aku harus mengantar mereka kesekolah dan siang aku juga harus menjemput mereka sepulang sekolah. Jadi kerjaan ekstra deh, kalau di bayar ekstra memang enak, tapi ini kerja ekstra dan tidak di bayar pula,..ck...
Dan pagi itu, jam menunjukkan pukul 07.35. Karena sudah diultimatum :" You only have 30 minutes mom.."maka aku pun mengeluarkan semua jurus sopir angkot yang aku miliki. Salib kiri...zig..salib kanan..zag..kiri...kanan...zigzag,.. obras,.. bordir.. (emangnya mesin jahit?!...)Gaaas pool!....reeeem,...ciiiiiit...!Sampai di sekolah jam 8.05. Telat 5 menit. It's ok "kok" girls...Yang nggak ok itu para pengguna jalan lain yang merasa terganggu dengan aksi ugal-ugalanku. Maafkan ya..( I can't) promise It won't be happen again...hehehe...
Lapar juga rasanya karena belum ada sedikitpun makanan yang masuk ke perutku. Tapi sebelum makan aku menyempatkan diri untuk berbelanja beberapa kebutuhan pokok dulu. Setelah selesai berbelanja aku malah bingung memutuskan untuk makan apa. Akhirnya aku memasuki sebuah restoran Kfc di sebuah plaza. Karena masih jam 10 aku putuskan untuk brunch alias breakfast and lunch. Hm...makanan sampah itu aku pesan dengan porsi yang boleh dibilang "cukup banyak" kalau nggak mau dibilang maruk.Hihi..
Restoran dalam keadaan sepi. Satu-satunya pengunjung hanyalah aku. Seorang manusia antik yang sedang menikmati makanannya dengan lahap. Ditengah ritual makanku itu tiba-tiba datang segerombolan anak laki-laki berusia sekitar 9-10 tahunan. Mereka berenam. Mereka kelihatan cukup bersih dan pakaiannya juga cukup rapi. Pliz..jangan bilang aku mata cowok-an. Secara aku yang nggak punya anak laki dan mereka seumuran dengan anakku. Maka dalam tempo sekejab jadilah mereka korban "analisis sesaat" ku yang kadang merupakan "analisis sesat".
"Beli eskrim.. yok, beli eskrim.."kata salah seorang dari mereka. Beberapa setuju tetapi beberapanya lagi tidak setuju. Lalu mereka mulai menghitung-hitung uang,.."cukup kok...cukup..buat ntar kan 10rb...eskrim 1600..." Duh,...aku rasanya sudah kepingin untuk membelikan mereka eskrim yang harganya tidak seberapa itu,...tapi tunggu dulu...ntar bisa-bisa dikirain tante girang lagi nyari mangsa lagi. Atau lebih parah lagi dikira penculik yang akhir-akhir ini sering gentayangan...mau yang lebih sadis lagi?...dikira pelaku mutilasi...Hiii...ngerii...
Akhirnya kulihat mereka semua sepakat untuk membeli eskrim dan duduk dengan manis di meja sebelahku sambil menikmati eskrim-nya masing-masing. Dan mulailah aku menguping obrolan mereka. Ingin tahu juga kan kalau anak-anak umur segitu berkumpul kira-kira apa sih yang jadi topik obrolan mereka. Pertama masih membahas masalah eskrim. Lalu,.."Eh,...ntar gua duduk disebelah elu ya,...ntar kalo Hantu Ambulance-nya muncul gimana?..serem tau...!"..kata seorang bocah yang badannya paling kecil. "Hiik,..sepotong tulang ayam rasanya menyodok kerongkonganku, sebenarnya tidak ada tulang ayam yang masuk ke kerongkonganku tapi rasanya lebih kurang seperti itu. Aku tersedak! Mataku melotot kayak mau keluar. Buru aku menyambar minuman dan glek...glek..glek...akhirnya bisa bernafas dengan normal juga.
Apa?!...Mereka mau nonton pilem di tuwenti wan, hari ini, jam segini dan pilem horor pulak. Kepingin sekali rasanya aku memukuli pantat mereka dan menyuruh mereka untuk segera pulang. Tapi apalah aku? Dan siapalah aku?...Emaknya bukan, uwaknya juga bukan. Apa hak aku untuk memukuli pantat anak orang. Apa lagi dengan segala teori psikologi yang mengharamkan pemukulan terhadap anak. Bisa berdosa besar aku. Bisa masuk neraka juga nanti aku.
"Lihat,..liat...tuh ada cewek-cewek..."salah seorang dari mereka tiba-tiba berseru dengan penuh semangat. "Mana...mana....?" teman-temannya berusaha melihat semua. Dan mulailah suit-suitan itu. Dan mulailah panggilan ..cewek!..cewek!(berikut bunyi ketok-ketok nya..) Ya...Ampuuuun....ngelap ingus aja baru bisa...cebok juga entah bersih entah enggak,..eh..udah bisa-bisanya menggodain cewek. Inaaaang....
Seandainya ada yang merekam ekpresiku mungkin akan jelas terlihat bagaimana perubahan raut wajahku dari yang penuh kasih sayang menjadi penuh kemarahan. Tapi dengan wajah polos tanpa dosa mereka kembali sibuk dengan rencana mengatur posisi duduk di dalam studio nantinya. Dan tiba-tiba aku sadar ini bukan salah mereka. Mereka hanyalah kertas putih polos yang siap digambari dan ditulisi dengan apa saja. Salahkan siapa? Aku nggak berani menyalahkan orang tua mereka. Aku sendiri saja sebagai orang tua belum tentu becus. Meskipun aku berusaha semaksimalnya. Tapi demi Tuhan aku tidak berani menunjuk ke orang sebelum aku melihat ke diri aku sendiri. Tapi kalau menyalahkan kapitalis yang menyuguhkan tontonan sampah dan petugas yang mau menjual tiket masuk kepada anak dibawah umur,...aku paling berani. Aku mengutuki mereka yang sudah tidak punya kepedulian terhadap generasi muda....Ah,...dunia makin kacau saja ya...
Dari pada aku makin sesak napas sendiri melihat mereka aku putuskan untuk segera meninggalkan tempat itu. Aku naik kelantai dua menuju ke Gunung Agung. Si kakak sudah kehabisan stok bacaan untuk book report nya. Mungkin membeli beberapa buku cukup buat persediaan sampai bulan depan. Aku memilih 2 buku karangan Mark Twain dan 2 buku Edgar & Ellen, sikembar nakal dan bersiap-siap menuju kasir. Tapi,..wait...bukankah ini segerombolan anak perempuan yang tadi di goda oleh segerombolan anak laki-laki tadi? Mereka sedang melihat-lihat stationary. Kali ini aku benar-benar sudah tidak bisa menahan diri. Lalu aku pun bertanya, "Kok nggak sekolah?"...Mereka pun berebutan menjawab,.."Udah pulaaaaang...." Lalu kutanya lagi, "Jam segini kok udah pulang?"....Dan mereka lagi-lagi berebutan menjawab,..."Gurunya mau rapat...iya,... gurunya rapat jadi kita disuruh pulaaaang..." Lalu kataku,"Oh...gitu...terus kalian mau kemana lagi?"...kali ini aku agak deg-degan menunggu jawaban mereka..."Mau ke tuwenti waaan,...mau nonton Hantu Ambulaaaance..." Maaak nyuuuut...bukan Maaak nyuuuus ya tapi Maaak Nyuuuut....kepalaku langsung cenut-cenut....
Dari sore sampai malam aku tergeletak di kasur. Migrenku kambuh. Tidak tahu pemicunya apa, apakah karena kaget dibangunkan tadi malem atau pagi langsung mencelat dari tempat tidur, atau karena tidak sarapan, atau makan siang yang acak-acakan atau menyaksikan anak-anak yang mau menonton hantu ambulan atau apa...atau...entah...
"Makan malem beli aja ya,...mami nggak bisa bangun nih,....!"
"Yuuuuhuuuuu....."

Bingung juga yach,..

Katanya mesti kerja keras. Jadi minggu-minggu terakhir ini aku sedang disibukkan dengan aktifitas bagaimana menaikkan omzet percetakan. Niat pengen jual rumah sampe hari ini belum kesampaian. Udah macem-macem broker yang dipake, udah cape ngomong kesana-sini, udah jawab telfon yang ternyata cuma tanya doang, tuh rumah sampai hari ini dan detik ini masih belum laku juga. Hhhh...Cape juga. Terakhir kita putuskan bahwa tu rumah mesti disekolahin dulu di bank. Maksudnya,...sertifikatnya diagunkan dulu di Bank sehingga kita dapat pinjaman yang nantinya bisa digunakan untuk modal kerja. Ide yang sangat cemerlang untuk ingerosalina. Yeah...!( Ini tanda tanda orang stress, ngomongnya udah mulai ngaco, tata bahasa nggak karuan, mandi jarang..eh..nggak ding, kalo mandi aku tetep rajin. Bahkan sampe 3x sehari, berharap warna kulit bisa agak memudar dikit. Hehehe..Udah ah,..serius dikit napa? )
Jadilah minggu ini jadi sering meng-copy sertifikat dll terus bolak-balik ke Bank nemuin bagian kredit. Kemaren juga abis di interview lagi ama AO-nya. Dasar akunya tukang ngobrol, jadilah urusan pekerjaaan orang itu sekalian sarana ngobrol ngarol ngidul. Ditemani suguhan minuman dan camilan, kunjungan yang normalnya setengah jam menjadi hampir 2 jam. Biar kapok tu orang. Pulang ke kantornya pasti diomelin ama atasan. Sukurin loe!
Mudah-mudahan 2 minggu lagi permohonan disetujui dan dananya segera cair. Nasib...nasib...Kenapa aku jadi si ratu kredit gini ya?..Tapi nggak papalah. Mumpung masih muda, hidup agak di "push" dikit. Siapa tau kalo ntar aku berhasil pengalaman hidupku akan jadi referensi untuk orang lain, atau kalo pun nantinya aku berhasil pengalaman hidupku bisa dijadiin biografi, atau...kalo aku berhasil juga aku bisa ngajarin orang-orang yang baru mulai. (nggak mau nulis kemungkinan terburuknya. Amit-amit..Mending nulis yang indah-indah aja. kikikik...)
Kemaren sore nih ada kasus. Ceritanya begini: Bapak A selalu mengerjakan pekerjaan bubutnya di bengkel ipaabong. Biasanya dia yang berbelanja semua bahan-bahan yang diperlukan sehingga ipaabong hanya bertugas untuk mengerjakan pekerjaan itu yang nanti dibayarkan uang jasa pengerjaannya. Jadi cukup jelaskan? Ipaabong tidak modal apa-apa. Cuma ngelas, ngebubut, dll lalu dibayar sekian. Ok? Bagian ini cukup jelas kan?
Lalu kemaren sore si Bapak A ini tidak ada uang untuk belanja bahan maka dia ingin meminjam uang dulu dari ipaabong senilai katakanlah 2 jt. Tapi nanti, 2 minggu kemudian, pada saat melunasi dia akan membayar senilai 2,5 jt sebagai balas jasa. Tentu ipaabong akan mendapatkan untung bersih 500 ribu. Tanpa melakukan apa-apa dan dapat 500 ribu. Hm...menggiurkan sekali...Tapi simak percakapan berikut:
Agung : "Gimana? Mo dipinjemin nggak? Ini sudah masuk kategori riba lho..
Inge : "Lho, itukan keuntungan kita. Kita sudah meminjamkan dia modal kerja. Wajar dong kalo kita mendapatkan sedikit uang lelah..."
Agung :"Uang lelah apaan? Kita nggak ngelakukan apa-apa kecuali meminjamkan uang yang akan dikembalikan berikut bunganya. Itu namanya rentenir, sayang..."
Inge :"Tapi nggak dong...ama dia kan bikin modal kerja dan dia nantinya akan dapat keuntungan. Nah keuntungan itulah yang dibagikan dengan kita. ( masih berusaha mencari pembenaran...)
Agung :" Mau beralasan 1001 macam, tetep aja itu namanya riba. Ini urusannya sama Tuhan. Dan Tuhan nggak bisa dibohongin.
Inge : (glek...) "Yaaah,...jadi nggak boleh gitu?"
Agung :"Ya terserah. Ini semua tergantung ama hati nurani masing-masing. Kalo kesempatan ini mau diambil, ya diambil. Kalo nggak, ya enggak. Gampang toooh..."
Jadi teman-temanku sekalian, alangkah beratnya untuk tetap berada di jalur yang benar. Ada kesempatan untuk mendapatkan sesuatu dengan cara yang sangat gampang tetapi jalannya tidak benar, dan ada juga kesempatan untuk mendapatkan sesuatu dengan susah payah dan selalu berusaha di jalan yang benar. Pilihannya semua ada di tangan kita masing-masing.....

Insiden tali

Sini aku ceritain tentang insiden yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Berawal dari jamuan makan siang untuk kerabat yang kebetulan sedang datang berkunjung. Secara aku yang tidak bisa “masak banyak” memilih untuk makan di restoran saja. Tidak bisa masak banyak maksudnya, aku bisa masak dan masakanku juga lumayan enak (ini kata suami dan anak-anakku, orang lain nggak tau dah…) Cuma,…aku nggak bisa masak dalam porsi yang banyak. Meskipun racikan bumbunya sudah aku gandakan tetap aja rasanya lari alias cemplang. Jadi…intinya aku bisa masak enak kalo porsinya kecil. Maksimum untuk 4 orang deh. Lebih dari itu nggak janji.
Setelah makan siang yang cukup menguras kantong kegiatan dilanjutkan dengan window shopping. Keliling-keliling nggak juntrungan akhirnya memutuskan pulang setelah kaki terasa pegal. Kebetulan siang itu cuaca agak mendung. Aku pun menginstruksikan agar yang lain menunggu di lobby dan cukup aku saja yang mengambil mobil di parkiran. Berjalan dengan penuh rasa percaya diri aku melemparkan senyum kepada setiap orang yang bersirobok pandang denganku. Terakhir adalah satpam yang membukakan pintu untukku. Aku memberikan senyum yang manis sambil tidak lupa mengucapkan terimakasih. Sambil bersenandung aku kian dekat ke mobilku. Ketika akhirnya sampai di mobil seperti biasa aku ngaca di jendela yang memantulkan bayanganku. Iseng-iseng ngecek jigong. Siapa tau tadi pada saat aku tebar senyum kesana sini ternyata giginya ada cabe atau ada sisa makanan yang nyelip diantara gigi. Bagooos…Meskipun gigiku rada kuning tapi tidak ada jigong yang terlihat.
Beres urusan gigi mataku kemudian melirik ke leher trus turun dikit lagi ke arah kaos berkerah bulat. Tali apa itu?...Siapa sih yang iseng narok tali kecil tanpa aku ketahui sedikitpun. Tunggu,….Tidaaaaakkkkkkk…..Itu tali beha yang melompati kaos dan berjuntai keluar dengan indahnya. Seperti tungkai peragawati yang sedang dalam sesi pemotretan disisi kolam renang. Hiaaaa…..inikah yang di senyum-i oleh orang-orang yang berpapasan denganku tadi. Tali beha yang copot dari cantelannya itu benar-benar meruntuhkan kepercayaan diriku….Tali beha…oh…tali beha……
(…..ck..ck..ck.. inge,…inge,…..makanya,…lain kali pake “mini set” ajah…kikikik..)

Not the end of the world (yet)

Rasanya tidak adil jika aku selalu bercerita tentang segala kemudahan yang telah aku dapatkan tanpa mencantumkan kesulitan yang juga aku alami. Jika cerita tentang hari-hari yang cerah dan penuh wangi bunga berubah menjadi mendung dan menakutkan maka inilah saatnya dimana aku kembali mengalami dinamika itu.
Berita tentang penutupan perusahaan tempat suamiku bekerja benar-benar mengejutkan. Memang aku sudah mengantisipasi terjadinya kemungkinan paling buruk ini tapi aku benar-benar tidak menyangka akan terjadi secepat ini. Prediksiku mungkin dalam 1 atau 2 tahun kedepan. Tetapi kenyataannya menjadi 1 atau 2 bulan kedepan. Ditengah kekagetan ini aku mencoba untuk tetap tegar. Aku berusaha untuk menenangkan gejolak dan berusahan untuk menampakkan wajah setenang mungkin karena aku tidak ingin suamiku menjadi gugup dan panik. Tapi sepandai-pandainya aku menyembunyikan perasaan tetap saja aku menjadi paranoid. Aku menjadi makin obsesif dengan anak-anak. Dan keadaan ini tidak boleh berlangsung lama. Aku harus segera mencari jalan keluarnya.
Setelah bersemedi dibawah pohon beringin selama 7 hari 7 malam aku mendapatkan wangsit juga akhirnya. Wangsit itu adalah ide untuk menyewakan rumah yang belakang. Ceritanya aku menghuni 2 rumah yang aku gabungkan menjadi 1. Karena rumah itu bergandengan dan saling membelakangi, aku menyambung dengan cara memberikan connecting door di tembok belakangnya. Jadi sekarang yang perlu aku lakukan adalah mencabut pintu itu untuk kemudian ditembok kembali menjadi dinding seperti semula. Hingga akhirnya rumah itu terpisah lagi menjadi 2 rumah yang berbeda. Dengan kondisi ini aku bisa menyewakan rumah belakang itu sehingga dapat menghasilkan income tambahan.Tidak lupa aku mengucapkan terimakasih kepada temen sepertapaanku : Ki Joki Bodo bin Jatuh Dari Kudo atas ide-ide segarnya. Sedikit cerita tentang temanku ini, kemaren dia mendapatkan wangsit untuk merubah haluan hidupnya. Dari seorang joki kuda menjadi joki three in one. Bahkan katanya dia malah mau ikut kursus di Primagama biar bisa jadi joki UMPTN sekalian. Goodluck deh Ki…
Sehubungan dengan income yang tertahan sampai waktu yang tidak dapat ditentukan maka semua pengeluaran mesti ditekan lagi. Jadwal nonton ke bioskop praktis mesti di coret dari daftar termasuk makan lamak alias makan enak di restoran. Say good bye to Din Tai Fung, Cristal Jade, Coca Suki, Gang Gang Sulai, dll. Tidak ada akhir pekan melihat pameran lukisan atau nonton teater apalagi nonton konser. Buang jauh-jauh. Sekarang yang ada kerja 7 hari dalam seminggu. Kerja, kerja dan kerja. Kerja keras pun mesti lebih keras lagi karena inflasi sedang hangat-hangatnya. Sehangat tai ayam yang selalu menjadi sumber inspirasiku. Rasanya ingin menjerit keras-keras. Jika kemaren aku dengan yakinnya berteriak “Dunia…! Aku datang…!” Kini aku hanya bisa berbisik dan berkata, “Tuhan…, Bantu aku.. .
Hidup kita benar-benar semarak dan penuh dengan liku-liku. Apa yang terjadi selajutnya benar-benar seperti sebuah film tanpa skenario. Penuh kejutan dan intrik. Tapi semakin kita bisa menikmati alur cerita yang terjadi, semakin indah juga jadinya hidup ini. Syukurlah karena ternyata nyaliku masih hidup dan masih siap diadu. No worry. Aku percaya bahwa semua sudah diatur oleh Nya. Mungkin saja hidupku akan menjadi semakin sulit tapi juga mungkin saja usaha yang aku rintis sebelumnya malah semakin maju. Mungkin bukan jadi jodoh kami untuk menjadi karyawan atau mungkin juga sudah menjadi takdir kami untuk menjadi wiraswastan (sengaja di ditambah n jadi wiraswastan maching dengan karyawan, kikikik…) Dunia memang selalu penuh dengan dualisme. Ada siang ada malam. Ada gelap ada terang. Ada sakit ada sehat. Laki-laki - perempuan. Tinggi - pendek. Miskin - kaya. Dst…dst….
Jadi ingat hal yang paling dicamkan oleh suamiku pada masa awal-awal pernikahan dulu, yakni kata-kata, “Kita siap kaya dan siap miskin” Artinya apapun nantinya yang akan kami hadapi bersama akan kami lewati bersama-sama pula. Aku menaruh seluruh kepercayaan kepadanya begitu juga sebaliknya. Dan partnership ini akan kami pertahankan sampai maut memisahkan….ooooh,…how sweet….

Airmata sahabat

Nggak ngomongin tentang kepergian Pak Harto meskipun aku salah seorang fansnya. Cuma mo ngomongin sahabatnya Dato M alias Mahatir.
Ternyata Mahatir benar-benar sahabat sejati. Melihat matanya yang sembab dan tidak dapat meneruskan kata-kata ketika media mewawancarainya, membuatku tertegun. Dialah sahabat sejati yang airmatanya tidak cukup untuk mewakili kesedihan hati. Pak Harto sungguh beruntung mempunyai sahabat seperti dia. Persahabatan antara dua negarawan hebat ini akan dibawa sampai mati.

My childhood memories

Terus terang setiap aku pulang kampung rasanya ada sesuatu yang hilang. Karena sekarang setiap pulang kampung aku ke Rumbai yang tidak punya ikatan apa-apa denganku. Sedangkan aku merasa kampungku yang sesungguhnya adalah Duri. Kota kecil kecamatan yang kini tergagap antara ingin menjadi besar tetapi jelas-jelas belum siap di segala bidang. Terakhir dari berita yang aku dengar di televisi rencana pemekaran Mandau dari kecamatan menjadi kabupaten ternyata ditolak. Membayangkan Duri dimasa silam adalah hal terindah sepanjang kenangan hidupku. Masa kanak-kanak yang kuhabiskan sepenuhnya disana, melekatkan memori yang teramat dalam di benakku.
Tahun 1978 setahun setelah kelahiran adikku, ayahku memutuskan untuk memboyong seluruh anggota keluarganya yaitu ibuku dan sepasang balita; aku dan adikku untuk pindah ke Duri. Karena belum mendapatkan jatah rumah dinas, yang saat itu amatlah sulit, ayahku memilih untuk mengontrak rumah di Jalan Obor. Kami tinggal dalam lingkungan yang sangat heterogen. Tetangga berasal dari berbagai macam suku dan latar belakang yang berbeda. Ada guru, ustadz, pedagang, tukang, buruh, dll. Kehidupan berjalan dengan keunikannya sendiri-sendiri.
Tunggu punya tunggu rumah dinas yang diharapkan tak kunjung datang. Akhirnya ayahku memutuskan untuk memiliki rumah sendiri dengan fasilitas cicilan lunak dari perusahaan tempatnya bekerja. Pilihannya jatuh pada sebuah tempat yang bernama Jalan Kebun Karet. Sesuai dengan namanya tempat ini sebelumnya adalah sebuah hutan karet yang dikelola menjadi perkebunan. Hingga akhirnya satu demi satu berdiri rumah disana. Bukan suatu kebetulan jika semua rumah yang ada merupakan rumah dengan system kepemilikan yang sama, yaitu cicilan dari perusahaan. Karena semua berasal dari latar belakang pekerjaan yang sama yaitu karyawan pt caltex, maka kehidupan kami disini menjadi sangat homogen. Tidak jauh berbeda dengan kehidupan dilingkungan rumah dinas yang lazim disebut dengan camp.
Jalan kebun karet no 4a menjadi tempat tinggalku selama bertahun-tahun. Rumah yang cukup besar bagiku dan dengan halamannya yang luas benar-benar bisa memenuhi segala kebutuhanku. Awal-awal kami tinggal disana ibuku mulai menanami halaman belakang dengan berbagai macam tanaman. Dari satu hingga dua jenis tanaman, lama-lama koleksi nya menjadi lengkap. Mulai dari rambutan, mangga, jambu air, jambu klutuk, sirsak, tebu, singkong, keladi, kelapa hingga cengkeh. Belum lagi tanaman untuk bumbu dapur seperti jahe, lengkuas, sereh, kunyit, kencur, cabe rawit, cabe merah dan tomat.
Tiap tanaman punya kenangan sendiri-sendiri bagiku. Yang pertama pohon singkong. Jejeran pohon yang rapi aku memungkinkan aku untuk membangun gubuk-gubuk-an disini. Nantinya didalam gubuk itu aku akan bermain masak-masakan. Kalau disana dikenal dengan istilah main “alek-alek”. Setelah bosan biasanya aku menyanyi sambil berputar-putar mengelilingi pohon singkong dengan lagu yang asal bunyi alias ngarang. Lengkap dengan tarian dan gerakan ciluk ba dari balik pohon. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merinding. Merinding bukan karena saking merdunya tapi merinding karena kayak suara kuntilanak. Hiiiihihihihihi....( kalo ini ketawa kuntilanak)
Pohon rambutan adalah tempat favoritku untuk menikmati makan siang. Makan siang dalam arti yang sesungguhnya. Sering aku membawa piring lengkap dengan nasi dan lauk-pauknya keatas pohon lalu menghabiskannya disana. Maknyus nya tak terhingga, saudara-saudara. Apapun makanannya...pohon rambutanlah tempatnya. Biasanya kalo udah begini aku bisa makan sampe dua piring. Nggak pernah kebayang kaaaan,…makan diatas pohooon...( hanya satu kata, "alangkah monyetnya dikau inge....)
Kalau pohon jambu ceritanya lain lagi. Pohon ini menjadi tempat aku latihan memanjat. Pohonnya bercabang banyak. Jadi memanjatnya pun tidak sulit. Pernah suatu kali tanpa aku sadari aku memanjat terlalu tinggi hingga akhirnya aku ketakutan dan tidak berani turun. Salah seorang om-ku akhirnya terpaksa mengevakuasiku dengan cara menggendongku untuk turun dari pohon. Tapi aku nggak kapok. Besok-besoknya ya..manjat lagi.
Kalo pohon mangga baru bikin aku kapok. Saking napsunya mo ngambil buah mangga yang bergelantungan aku nekat manjat pohon mangga yang ada semutnya. Sekelompok semut rangrang, menyerangku tanpa ampun. Masuk kedalam baju dan kedalam rambut. Mana gigitannya kuat sekali dan seperti lengket dikulit. Ih,...ngebayanginnya aja serem.
Pohon jambu klutuk paling asyik. Karena pohonnya lentur dan tidak mudah patah, paling enak berayun-ayun di pohon ini. Permukaan batang dan dahannya juga halus dan tidak kasar. Apalagi jika kita kelupas lapisan kulit pohonnya yang telah mengering. Jadi muluus…banget. Semulus pahaku….dulu maksudnya... Dulu banget…,…kalo sekarang sih udah penuh strech mark dan selulit. Jadi belang-belang kayak zebra deh... Hahahahaha…
Kalo pohon kelapa aku nggak bisa manjatnya karena pohonnya lurus banget. Jadi susah. Dan lagi aku nggak tega mau ngerebut lahan saudara lamaku,…si monyet. Tapi kalo berdasarkan cerita-cerita diatas sih, sebenarnya aku ama monyet hampir nggak ada bedanya. Paling bedanya aku lebih cantik kali ya. Btw didalam tubuhku memang mengalir darah...eh...air liur monyet. Lho...?!..ntar..diceritain.
Pohon cengkeh rantingnya kecil-kecil dan pendek-pendek. Jadi tidak menarik untuk dipanjat. Ditahun kelima pohon cengkeh kami berbuah cukup banyak. Kegiatan memanen, lalu mengeringkannya dengan cara menjemur jadi kegiatan yang amat menyenangkan bagiku. Cengkeh yang telah mengering kemudian dibawa ibuku kepasar untuk dijual. Lumayan karena uangnya diberikan padaku yang dinilai telah cukup bersusah payah sebelumnya. Pelajaran yang dapat dipetik disini, ibuku mengajarkan bahwa jika kita mau bekerja kita akan mendapatkan uang.
(...inge,..maksud loh mo nulis cerita apa mo nulis tugas biologi, seh.... dari tadi cerita pohooon melulu,...)
Iya deh,..sekarang ganti cerita tentang hewan peliharaan. Puas....!Puas....!
Kami pernah memelihara kucing, kelinci, ayam bahkan monyet. Kucing?..Yah biasalah,..tinggal di dalam rumah dikasih makan, trus kadang-kadang dikasih susu yang tidak habis diminum. Kalau kelinci nasibnya sungguh tragis. Karena kandangnya langsung diatas tanah, tanpa dialasi papan mereka sering diam-diam menggali lubang dan keluar tanpa ketahuan. Lama-lama habislah mereka dimakan anjing. Mula-mula bapaknya, trus emaknya, trus anak-anaknya. Akhirnya tu kandang jadi kosong melompong. Hhhh….what a sad story.
Nah,...sekarang cerita tentang si monyet yang aku janjikan tadi. Suatu hari ayahku dihibahkan seseorang dua ekor monyet berikut kandangnya. Monyetnya sih biasa aja. Yang istimewa itu kandangnya. Aku sangat suka dengan kandang monyet itu. Kandang terbuat dari besi dan teralis berkwalitas sangat baik dengan ukuran 2m x 3m x 2m dan ketinggan 40cm dari atas tanah. Kandang itu sangat kokoh. Bahkan pintunya cukup lebar untuk keluar masuk bagi seukuran tubuh orang dewasa. Nah,..tugas untuk ngasih makan monyet merupakan bagianku. Setiap hari aku yang mengurus makan dan minumnya. Ngasih pisang, papaya, kadang roti tawar, sekali-sekali kacang (ini camilan..) Dan aku pun tidak sungkan-sungkan untuk masuk kedalam kandangnya. Setelah berbulan-bulan entah kenapa suatu hari saat aku sedang memberi mereka makan mereka mendadak menjadi buas. Mereka menjerit-jerit histeris dan mendadak menggigit kakiku. Oh,…kakiku…kakiku yang indah tapi pengkang. Hahahaha….
Dan terulang lagi kejadian aku dibawa ke Emergency Room. Unutk kesekian kalinya aku mendapatkan suntikan anti rabies. Pak Mantrinya sampai geleng-geleng kepala, “Inge…inge…kemaren digigit anjing, trus kemarennya lagi digigit kucing, trus kemaren lagi.....digigit anjing lagi,…sekarang malah digigit monyet….besok mau digigit apa lagi?”…Yah,…pak mantri, jangankan bapak wong saya juga heran. Jangan-jangan wajah saya yang imut dan kayak boneka ini sangat menggemaskan bagi mereka ya pak? ...Howeeek...yang pengen muntah silahkan muntah aja dulu. Ketika aku pulang dari rumah sakit yang kutemui hanyalah kandang yang kosong. Kata ibuku sepasang monyet itu diberikan pada seseorang untuk dijadikan monyet pemetik kelapa. Aku sangat sedih mendengarnya. Hik..hik..hik…Good bye my friends…
Diluar pelataran rumah, aku bersyukur memiliki lahan bermain yang tiada habisnya. Mulai dari padang rumput ilalang, semak-semak belukar, hutan kecil, mata air, kubangan hingga kolam ikan milik tetangga, adalah medan eksplorasi yang tiada habisnya. Menerobos lalang dengan sebatang tongkat ditangan, menebas kekiri dan kanan untuk membuka jalan, setiap langkah berbunyi srek, srek,srek wow…Jika beruntung kami menemukan sarang burung berikut telur-telurnya. Kali lain kami berpura-pura sedang memerankan tokoh Hangtuah, Hangjebat, dan Hanglekir. Menghayal jadi pendekar pendekar Melayu.( maklumlah,...tontonan kala itu hanyalah RTM 1 dan RTM 2. Jangan heran kalau kami sangat mengidolakan P.Ramlee, yang juga pernah memerankan Hangtuah dalam salah satu filmnya )
Semak-semak juga kaya dengan buah-buahan yang bisa di jadikan camilan. Beberapa tumbuhan merambat mempunyai buah yang enak, salah satunya yang sering kami konsumsi(kalo nggak salah) buah seletut. Ada juga sejenis pohon perdu yang memiliki buah berwarna ungu yang jika dimakan mulut jadi cemong-cemong hingga lidah dan bibir pun ikut berwarna ungu. Tau permen "jagoan neon"...? Yang bisa bikin lidah warna-warni..?Hm....kami udah duluan punya lidah berwarna. Menurut kasak-kusuk yang beredar diantara kami itu makanan ular. Heran ya,...sampe makanan ular pun diembat. Untung nggak papasan ama ularnya. Dengan riwayatku yang sering jadi korban gigitan binatang, aku tidak ingin hewan yang satu ini ikut-ikutan meninggalkan kenangan untukku.
Hutan karet juga tempat main yang tidak kalah menyenangkan. Sering kami membuat ayunan dari ban bekas disana. Malah kadang beberapa tali besar diikatkan diatas beberapa pohon untuk main tarzan-tarzanan. Jika bosan kami mengumpulkan buah karet yang masih muda untuk diukir menjadi sebentuk kepala seperti pumpkins di pesta Halloween. Kegiatan lain seperti mengoleksi biji karet yang telah kering ( kami menyebutnya buah para ) karena coraknya yang bermacam-macam.
Atau saling mengadu biji karet untuk mengetahui milik siapa yang paling keras. Caranya letakkan biji karet pertama diatas lantai, lalu pegang biji karet kedua dengan tangan kiri tepat diatas biji karet yang pertama tadi. Setelah sejajar, pukul sekuatnya dengan tangan kanan. Biji karet yang tidak pecah adalah pemenangnya. Masih nggak ngerti ?....Baca sekali lagi. Kalo masih belom ngerti juga baca bismilah dulu. Masih belom ngerti juga?....mendingan lewati saja paragraph ini ya…
Intinya, alam Duri menyediakan semuanya untuk aku dan teman-temanku. Aku merasa benar-benar menjadi salah seorang anak Sakai seperti yang sering aku khayalkan. Jika akhir-akhir ini di televisi ada tayangan si bolang (bocah petualang) yang kegiatannya nyaris sama dengan kegiatanku dulu, bedanya mereka pakai skenario. Seandainya saja dulu ada yang mendokumentasikan petualangan kami dan menjadikannya tontonan realty show aku yakin tayangan kami akan top rank. Btw....jangan jangan produser dan sutradara Si bolang, teman-teman aku bermain dulu, ya..…
Terima kasih untuk ayahku yang memutuskan untuk tinggal di luar camp dan terima kasih juga untuk ibuku yang memberikan kebebasan untuk mengekplorasi alam sekitar. Semua pengalaman itu benar-benar indah dan tak terlupakan. Seandainya ayahku segera mendapat jatah rumah dinas, mungkin semua cerita indah ini tidak akan pernah terjadi. Aku bersyukur dapat menikmati dua alam kehidupan yang berbeda. Bukan alam nyata dan alam gaib, lho..Tapi yang aku maksud adalah kehidupan diluar camp dan kehidupan didalam camp.
Aku mengenang saat-saat kala listrik padam dan kami semua duduk-duduk diatas tikar yang digelar dihalaman. Sambil mengobrol dan kipas-kipasan, biasanya kami jajan bakso yang lewat. Atau tidur-tiduran sambil berangan-angan kapan listrik bisa hidup 24 jam ( dulu listrik nyala setiap jam 5 sore dan akan padam pada jam 7 pagi )
Aku mengenang saat musim kemarau panjang hingga sumur-sumur kering dan kami mesti berhemat dengan cara apapun termasuk menampung air bekas wudhu untuk menyiram tanaman. Aku mengenang saat menantikan tibanya masa mandi hujan setelah kemarau panjang.
Aku mengenang saat aku jatuh cinta pada seorang anak lelaki tetangga sebelah yang berumur dua tahun diatasku, hingga aku betah berjam-jam duduk dijendela hanya untuk memandangi rumahnya, berharap dia keluar dan menyapaku. Padahal kala itu aku masih duduk di kelas 5 sd. Alangkah genitnya.
Aku mengenang saat bersepeda dan berpetualang. Mula mula rutenya memang dekat tapi makin lama makin jauh meninggalkan rumah. Sering kami menyusuri jalan Hangtuah disiang bolong, demi mencapai supermaket satu-satunya kala itu "Multi Delano" untuk membeli sekaleng minuman bersoda lalu pulang. Malah kadang kami bersepeda hingga ke jalan-jalan menuju lokasi pompa minyak.
Aku mengenang pertemananku dengan anak-anak kampung yang memberiku ilmu yang tidak ada dibuku-buku. Aku adalah kombinasi dari kehidupan yang mapan dan tidak mapan. Dan aku sungguh mencintai kombinasi ini.
……”Hingga kini ketika aku dewasa masa kanak-kanak yang indah dan bau hutan yang kurindukan ini sering kuceritakan kepada anak-anakku sebagai dongeng pengantar tidur…..”

My 'lil bit extreme activity

Sabtu minggu kedua di bulan desember ini aku berhasil mengalahkan rasa bimbang dan ragu. Rasa bimbang dan ragu itu berkaitan dengan pinangan suamiku untuk menjadikanku sebagai navigator-nya dalam kegiatan offroad.
Keahlianku sebagai navigator di kehidupan sehari-hari memang tidak dapat diragukan lagi (ehem…ehem..) tapi sebagai navigator di medan offroad, dalam arti yang sesungguhnya ( halah…),duduk disamping pengemudi,….hm….terus terang aku sendiri merasa ragu. Karena seorang navigator dituntut untuk bisa membaca medan, memberikan saran, bahkan bantuan secara fisik jika diperlukan.
Setelah menguatkan hati, memastikan berkali-kali bahwa ini one day trip, bahwa rute aman dan meminta anak-anak agar mendoakanku selamat pulang dan pergi, akhirnya aku berangkat juga. Tidak mudah untuk mengalahkan rasa cemas di usia 34 tahun ini. Entahlah…sejak menikah apalagi setelah memiliki anak nyaliku mudah ciut. Aku jadi takut naik jet coaster, takut ketinggian, takut mobil kencang, takut ini, takut itu, pokoknya aku berubah 180 derajat. Padahal dulu waktu masih muda (caile…muda nih ye…) aku menganggap diriku cukup pemberani.
Perjalanan berawal dengan janji untuk berkumpul di Cibubur. Tapi karena keterlambatan aku dan suamiku yang teramat fatal (+/- 2 jam) akhirnya kami ditinggal dan diminta segera menyusul ke Cibinong. Setelah sempat nyasar 2x akhirnya kami bertemu juga dengan rombongan yang terdiri atas 5 mobil. Asyik…kalo rombongan sedikit berarti perjalanan bisa cepat selesai. (Lho…belum mulai kok udah mikirin selesai…)
Melewati perkampungan kecil, kami layaknya pendekar yang pulang dari perang. Dielu-elukan oleh anak-anak kecil sepanjang perjalanan. Mereka bersorak-sorak bahkan memberikan tepuk tangan tangan pada setiap mobil yang melintas. Sesekali aku melambaikan tangan pada anak anak kecil yang memandangku dengan malu-malu. Ada rasa haru menyelimutiku. Perasaan yang sama ketika aku menyandang gelar “Putri Rangau”. Huahahaha……
Meninggalkan perkampungan kami mulai melewati jembatan-jembatan darurat dari pohon kelapa. Bahkan terakhir tidak ada jembatan lagi sehingga kami harus melintasi sungai kecil dengan kedalaman setengah meter dan lebar 5 meter. Harus hati-hati karena banyak batu-batu besarnya. Aku hanya bisa menahan nafas dan berpegangan erat-erat. Sesampainya di seberang,…what?!...Disana telah berkumpul sekitar 10 mobil yang sedang mengantri untuk melewati sebuah tanjakan curam. Berarti impianku untuk cepat selesai buyar sudah.
Tapi…tunggu dulu,…ternyata kami tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapat giliran. Sebuah tanjakan yang cukup curam dengan kemiringan sekitar 80 derajat membuatku sedikit gemetar. Apalagi beberapa mobil yang kulihat sebelumnya berkali-kali naik tapi juga berkali-kali merosot turun karena saking licinnya. O..o...mendingan aku turun dan memilih untuk berjalan kaki saja daripada jantungku menciut jadi sebesar bola golf. Sementara aku berjalan mendaki dan ngos-ngosan dibawah tetesan hujan, bojoku dapat dengan mulus melewat tanjakan itu. Tidak ada adegan naik dan turun berulang-ulang seperti mobil sebelumnya. Ah,…seandainya saja aku tau…
Melintasi medan yang sangat rusak dan licin, kami sempat membantu sebuah mobil yang melintir dan nyaris “ngguling”. Memang menghabiskan cukup banyak waktu, tapi ternyata disinilah letak seninya. Memandang, lalu memikirkan dan kemudian mencoba berbagai macam “movement” dan “moment” membuat kita jadi ketagihan. Aku mulai bisa merasakan “beat-beat” nya. Aha…
Jam 1 siang kami sampai di sebuah lapangan terbuka. Apa mau dikata,..disini telah berkumpul rombongan CJ 7 yang tampaknya mulai lebih pagi. Jumlahnya sekitar 10 mobil dan tampaknya mereka baru saja menyelesaikan makan siangnya dan sedang bersiap –siap untuk meneruskan perjalanan. Kami yang baru sampai memutuskan untuk makan siang disini sambil menunggu beberapa mobil yang masih mengantri dan tertinggal dibelakang.
Setelah memarkirkan mobil, aku mulai membuka bekal : nasi dengan lauk sambal tanak ( iya..iya..yang teri ama pete itu…) plus nori , tetapi aku merasa mobil pelan-pelan berjalan mundur. Aku mulai menjerit-jerit memanggil suamiku. Tapi dia sedang asyik ngobrol dengan teman-temannya. Makin lama makin cepat, aku pun reflek bergerak melompat keluar. Akhirnya mobil berhenti setelah masuk kedalam sebuah got kecil. Dan tumpahlah semua bekal makan siangku termasuk si pete dan teri itu tadi. Yang tertinggal hanya beberapa genggam nasi. Sambil makan nasi hanya dengan nori, suamiku berkata, “romantis kan, mi..” Aku cuma melotot dan …arrrgh… ingin rasanya kulumuri wajahnya dengan tumpahan makanan tadi.
Lepas dari insiden kecil tadi, setelah menunggu sekitar 2 jam, perjalanan dilanjutkan. Tapi diputuskan untuk tidak menuntaskan seluruh medan karena beberapa mobil mengalami kerusakan yang cukup parah. Baru jalan sekitar 10 menit kita terpaksa terhenti karena rombongan CJ yang sudah berangkat 2 jam lalu ternyata masih disekitar situ-situ aja. Ada sekitar 4 mobil yang malang melintang nggak karuan. Lagaknya mereka agak “beda”. Cowok-cowoknya rada sengak gitu. Saking sengaknya aku sampe kebelet pipis. Dan akhirnya pipislah aku di semak-semak, hanya gara-gara ngeliat orang sengak. Ups… Cewek-ceweknya juga banyak. Konon katanya salah seorang dari mereka adalah model FHM . Pantes…seksi euy…Tapi,..please deh ah,…Ditengah hutan gini masih aja TP alias tebar pesona.
Dari pada lama-lama nunggu, kami putuskan untuk meninggalkan mereka. Jalannya bener-bener ancur. Batu-batunya besar-besar. Mulai dari yang sebesar batu ulekan, sebesar mesin tik, sebesar computer, sampe yang sebesar boks bayi. Hehehe…yang terakhir itu bo’ongan, lagee…..Nggak ada ding batunya yang sebesar boks bayi. Disamping batunya gede-gede jalannya licin sekali. Berkali-kali mobilku melintir dan ngepot kesana kemari. Aku benar-benar panik. Mulutku komat-kamit mencoba membaca alfatihah dan ayat kursi. Tapi ternyata ya, kalo jantung mau copot, mata mau keluar, bibir biru, dan keringat keluar segede-gede jagung, otak suka nggak sinkron ama mulut. Yang ada aku cuma bisa bilang “Alham…Alham….Alhamdulillah….berkali-kali. Nggak satupun surat yang aku hapal diluar kepala bisa aku baca dengan lancar. Ampuuun…
Makin lama aku makin relaks dan bisa enjoy. Karena berada dibarisan paling depan, selayaknya memberikan instruksi lewat radio. Aku pun mulai berceloteh, “Awas…didepan ada tikungan tajam,….” dll.
Diantaranya, “ Awas…ada turunan yang sangat curam…” kataku mencoba memberikan rambu-rambu…Dijawab, “Yah…mbak….segini mah nggak curam…!”“Awas…jalanan jelek sekali karena batunya besar-besar…”Dijawab, “Yah…mbak …batu segini kok dibilang besar…?”“Awas…jangan diliat…ada cewek-cewek lagi pada mandi di kali…”“MANAAA….?!”......”MANAAA…?!
Huh,…dasar….!